Nostalgia Musim Pertama (Part 1)

Nostalgia Musim Pertama

Musim Pertama

Setiap orang punya cerita. Cerita perjalanan hidup dan semua hal yang dialami seseorang tidak akan sama dengan yang lainnya. Sehingga setiap cerita akan memiliki arti tersendiri, spesial, dan membekas di hati. Dari sekian banyak perjalanan hidup yang manusia lewati, masa kecil (anak-anak) yang cukup singkat justru paling banyak dikenang, memberi berpengaruh besar dalam kisah hidup selanjutnya. (menurut hemat penulis ya) 🙂  🙂 😉

Pengaruh ini tentu berkaitan dengan kondisi psikologis anak-anak, masa tumbuh kembang dan pembentukan karakter. Setiap kejadian, akan terekam, masa untuk belajar mengenal lingkungan dan apapun yang dibacanya. Sejujurnya, kurang pas kalau saya menjelaskan lebih detailnya, ini kan di luar kompetensi saya, jadi harap maklum 😀

Saya hanya ingin berbagi cerita, mengenang rasa dari sekelumit potret pengalaman masa kecil saya yang biasa. Namun, dari hal-hal yang biasa dan sederhana itu justru membuat saya sadar, ada banyak hal menyenangkan untuk disyukuri hari ini, sampai waktu tak berbatas.
Betapa manusia dewasa sebenarnya harus banyak belajar dari masa kecilnya, dari kebijaksanaan masa lalu yang perlahan hilang saat menjelang dewasa. Dari kejujuran dan harapan bahagia yang sederhana tapi penuh makna. Maka belajar sepanjang masa adalah cara kita menghargai hidup pemberian dari-Nya.

Nostalgia musim pertama, begitu saya menamainya. Tulisan ringkas berupa puisi ini menjadi salah satu bagian penting cerita anak desa tentang tanah kelahiran, rumah, teman, alam, dan semua kisah mereka. Semoga bisa jadi bacaan ringan yang menyenangkan, dan mungkin bisa membawamu memasuki lorong waktu di masa lalu. Juga membuka keluasan hati untuk mengamini bahwa setiap kita pernah mengalami masa lalu, apapun cerita di balik itu.

Cerita Tanah Kita

Musim lalu,
Bermain, berlari, bertelanjang kaki,
Bersahabat dengan ilalang dan belalang
Di bawah sinar mentari sebelum senja hari
…Masa yang tak terganti

Musim yang sama,
Saat daun berguguran, kita sepakat ke tanah lapang,
Beradu layang-layang
Berburu kumbang, juga capung belang-belang
…Masa yang membahagiakan

Musim setelahnya,
Kita masih di tanah yang sama
Melihat daun hijau menjadi ranum berisi
Menikmati kawanan burung yang enggan pergi
…Masa Para Petani bersuka hati

Musim selanjutnya,
Saat tanah penuh air genangan
Kita berburu ikan dan kunang-kunang
Di sana, katak bersahutan samar-samar
Menyukai suara dan aroma tanah basah
…Masa penuh berkah

Banyak cerita masa itu
Berselang waktu jadi lucu, tapi tak ambigu
Kita masih sama, tanpa ragu ini-itu
Tetap mencintai tanah berbau rindu
…Masa penuh haru

Katamu, jika musim kita sama
Penat dan sesak takkan terasa
Karena dulu, kita pernah bersuka cita
Menikmati langit dan awan, berlarian di tanah lapang
…Akankah kita di musim yang sama?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *