Fenomena Kelaparan pada Anak! Apa tugas Kita???

Setiap orang membutuhkan makan. Makanan itu sumber tenaga, salah satu alasan timbulnya perasaan bahagia. Makan juga satu cara mencukupi kebutuhan raga, haq tubuh kita. Lalu apa akibatnya jika tak makan? Contoh sederhana bisa dilihat dari teman, saudara atau tetangga kita. Si A mungkin pernah tiba-tiba pingsan di jalan, si B yang ternyata terdiagnosa mengalami gizi buruk lantaran absen makan. Atau si C, balita yang langganan di jenguk petugas kesehatan akibat berat badan yang stagnan.

Senyum bahagia menandakan anak yang sehat (Dok. pribadi)

Apa yang salah? Kebanyakan berkait dengan sekelumit dilema ekonomi keluarga. Tak bisa dipungkiri fakta saat ini, masalah gizi buruk ternyata masih menjangkiti jutaan anak-anak Indonesia, seperti berita yang dilansir media nasional beberapa bulan lalu. Meskipun kondisi miris ini sangat menyentuh hati nurani, namun tulisan kali ini belum akan membahas mengenai tema tersebut. Ulasan ini lebih menitikberatkan pada fenomena lapar, kelaparan dalam dimensi berbeda yang tak kalah pentingnya. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Pertama, tentu kita harus menyadari dan mengamini kondisi faktual kondisi kelaparan pada anak. Secara Istilah/bahasa, dalam KBBI kelaparan diartikan: perihal lapar; menderita lapar (karena tidak ada yang dimakan); kekurangan makan. Semuanya merujuk pada kurangnya asupan makanan. Namun dalam hal ini “kelaparan” yang saya maksud merujuk pada kurangnya perhatian dan kasih sayang pada anak-anak (dalam rentang usia kurang dari 18 tahun, sesuai peraturan perundangan). Khususnya anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Lalu apa “makanan” yang tepat untuk mereka?

Kumpul Bocah

Kedua, perhatikan kondisi anak-anak sekeliling kita. Meskipun bukan berlatar belakang bidang psikologi, namun setiap orang punya kesadaran dan rasa perhatian. Sudah waktunya kita prihatin  terhadap masalah yang menimpa anak-anak saat ini. Saya hanyalah salah satu saksi dari sekian banyak cerita. Melihat sebagian kasus anak-anak dengan kondisi ekonomi di atas rata-rata atau yang biasa-biasa saja, namun sangat miskin cinta, hingga berpolah pada kasus tindak pidana.

Beberapa dari mereka tumbuh menjadi “spesial” karena membuat kesal orang-orang sekitarnya, mendapat julukan “biang onar,” bahkan tak sedikit yang akhirnya melawan nasehat orang tua. Ada juga yang tumbuh menjadi anak yang sangat hemat kata-kata. Komunikasi tak bisa berjalan lancar karena fokus yang hilang dan perilakunya yang tak bisa diam (umumnya terjadi pada anak usia 1-8 tahun).

Ketiga, waspadai fakta yang terjadi pada sikap orang tua saat ini:  1) Orang tua (ayah-ibu) sibuk bekerja mencari nafkah sehingga waktu bersama anak semakin sedikit, bahkan hanya bersisa bilangan jam setiap harinya; 2) Orang tua masih belum memahami cara berkomunikasi dan menjalin bonding dengan anak secara berkualitas, meskipun sebatas sapaan dan cara memberi pujian. Beberapa malah menggantinya dengan uang/materi semata. 3) Banyak orang tua yang cenderung permisif pada anak dalam hal penggunaan teknologi (terutama gedget), parahnya lagi pada anak-anak usia dini. Padahal dampaknya, cenderung beresiko bagi pertumbuhan dan perkembangan otaknya.

Keempat, lakukan langkah nyata sekarang juga. Masalah kelaparan anak dan semua kasus  yang ada tentu tak bisa diatasi dari satu pihak saja (orang tua), tetapi semua elemen dan lingkungan di sekitarnya. Memahami perihal do and don’t dalam mendidik anak karena setiap anak memiliki hak sama, termasuk kebutuhan emosional dan sosial.

Sekolah sudah seharusnya menyediakan ruang bermain untuk anak

Bekal iman dan ilmu agama menjadi nomor satu. Orang tua sudah seharusnya mempelajari cara mendidik anak, dengan membaca; berdiskusi dengan orang yang tepat (berilmu dan berpengalaman). Selain itu sangat penting menghargai waktu di setiap proses tumbuh kembangnya; mengajaknya bermain (tanpa gedget) dan menikmati masa anak-anak dengan semestinya (maksimalkan gerak motorik), dan banyak cara lainnya. Hal yang tak kalah penting, selain menjadi teladan bagi anak, orang tua seharusnya mampu memberi kontrol/batasan, terutama dalam hal penggunaan teknologi (gadget, televisi, dsb).

Melek teknologi harus diimbangi dengan melek resiko, dan cara mengatasinya. Peran teknologi untuk komunikasi dan informasi memang kebutuhan di zaman kekinian, tetapi tidak serta merta menegasikan peran orang tua secara langsung untuk berinteraksi dan mendidik anak-anaknya. Berilah curahan kasih sayang yang melimpah dan perhatian yang sesungguhnya, bukan sekedar kelimpahan harta saja. Karena lapar perhatian dan kasih sayang itu harus diberi asupan makanan dari aspek psikologi (mental dan jiwa).

Lapar perut akan teratasi setelah makan. Namun lapar perhatian dan kasih sayang, umumnya akan membutuhkan waktu bulanan, bahkan tahunan untuk bisa memperbaiki kondisi anak. terutama bagi mereka yang sudah akut.

Semestinya, kita (red: penulis dan pembaca) sebagai orang dewasa, ikut memberi perhatian, memberi saran, dan mengambil tindakan. Sebelum anak menemukan perhatian dan pelampiasan di luaran yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Sebelum anak menjadi lebih fokus pada dunia maya, dan menegasikan peran orang tua dan dunia nyata mereka yang lebih indah semestinya. Penuhilah lapar mereka dengan asupan yang tepat dan bermanfaat secara lahir-batin.

Lalu kita yang bukan orang tua mereka? Tentu bisa memberi perhatian dalam hal berbeda. Memberi ilmu dan pemahaman menurut saya sebagai jalan utama. Karena anak-anak selalu sama, dari zaman apapun, di tempat manapun, dalam keadaan apapun. Mereka akan tetap lapar perut (makanan), lapar otak (ilmu-pengetahuan), dan lapar hati (iman dan perhatian). Lalu apa peran kita agar memberi arti? Menurut saya, mulailah dengan berbagi ilmu dan pengetahuan yang kita miliki (ilmu agama dan dunia), berbagi tulisan (buku) juga kata-kata lisan, memberi teladan melalui sikap dan berbicara santun (verbal dan tulisan). Mulai dengan belajar mendengarkan mereka, maka mereka akan mendengarkan kita.(in sya Allah)

Perhatian dan kasih sayang orang tua, dan lingkungan sekitarnya akan mengambil peran penting dalam masa tumbuh kembang dan perilaku anak hingga dewasa. Semoga kita bisa, menjadi bagian di jalan kebaikan untuk membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas secara lahir dan batin.

Mari Peduli Anak dan Masa Depannya!!!

 

*Tulisan ini terinspirasi dari Buku Ustadz Bachtiar Nasir, “Masuk Surga Sekeluarga”. Juga tentang ulasan fenomena lapar Ayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *